Detail Katalog

ID: 28675
Cover Tidak Tersedia

Gambar cover belum diupload

KOLABORASI PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG / Muhammad Al Fayyad Rizwanda

Pengarang:
Muhammad Al Fayyad Rizwanda ; Uluputty, Irfan
Penerbit:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Tempat Terbit:
Jatinangor :
Tahun Terbit:
2025
Subjek
Penanganan Gelandangan dan Pengemis
Deskripsi Fisik:
10 : Ilus
Nomor Panggil:
362.592.598.183.3 MUH k
Control Number:
INLIS000000001191930
BIB ID:
0010-0126000375
Catatan
Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah belum optimalnya kolaborasi lintas sektor antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial dalam menangani gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Bandar Lampung. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya pengentasan kemiskinan, data menunjukkan bahwa jumlah gepeng meningkat drastis dari 47.000 jiwa pada tahun 2022 menjadi 109.000 jiwa pada tahun 2023, menandakan adanya ketimpangan antara kebijakan dan implementasinya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kolaborasi penanganan gelandangan dan pengemis di Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive sampling dan terdiri dari aktor kebijakan, pelaksana teknis, masyarakat terdampak, hingga organisasi non-pemerintah yang relevan. Penelitian menggunakan konsep Collaborative Governance dari Ansell dan Gash (2008) sebagai kerangka analisis. Hasil/Temuan: Penelitian menemukan bahwa meskipun telah terdapat struktur kolaborasi antara Satpol PP dan Dinas Sosial serta lembaga sosial seperti Apik Mandiri, pelaksanaannya belum maksimal karena adanya ketimpangan sumber daya, lemahnya insentif bagi petugas, serta belum meratanya distribusi peran. Kepemimpinan fasilitatif telah mendorong koordinasi dan pengambilan keputusan, namun perlu penguatan sistem dan struktur koordinasi antar lembaga. Kesimpulan: Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan gepeng di Kota Bandar Lampung telah menunjukkan kemajuan, namun masih perlu diperkuat melalui peningkatan keseimbangan sumber daya, kepemimpinan yang lebih inklusif, dan partisipasi yang lebih luas antar lembaga. Strategi kolaboratif yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi kunci dalam menyelesaikan permasalahan gepeng yang kompleks.
Kata Kunci: Kolaborasi Lintas Sektor, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Sosial, Gelandangan dan Pengemis, Kota Bandar Lampung.
Status
Tersedia di OPAC Bibliografi Nasional Indonesia Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
Nomor Barcode Nomor Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
00060/IPDN/2026 Baca di tempat Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Format MARC21 - Total 13 field
Tag Ind1 Ind2 Nilai Urutan
001 _ _ INLIS000000001191930 1
005 _ _ 20260117073627 2
035 # # $a 0010-0126000375 3
245 1 # $a KOLABORASI PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG /$c Muhammad Al Fayyad Rizwanda 4
100 _ # $a Muhammad Al Fayyad Rizwanda 5
300 # # $a 10 : $b Ilus 6
856 # # $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/20784 7
700 3 # $a Uluputty, Irfan 8
260 # # $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 9
082 # # $a 362.592.598.183.3 10
084 # # $a 362.592.598.183.3 MUH k 11
650 # 4 $a Penanganan Gelandangan dan Pengemis 12
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah belum optimalnya kolaborasi lintas sektor antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial dalam menangani gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Bandar Lampung. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya pengentasan kemiskinan, data menunjukkan bahwa jumlah gepeng meningkat drastis dari 47.000 jiwa pada tahun 2022 menjadi 109.000 jiwa pada tahun 2023, menandakan adanya ketimpangan antara kebijakan dan implementasinya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kolaborasi penanganan gelandangan dan pengemis di Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive sampling dan terdiri dari aktor kebijakan, pelaksana teknis, masyarakat terdampak, hingga organisasi non-pemerintah yang relevan. Penelitian menggunakan konsep Collaborative Governance dari Ansell dan Gash (2008) sebagai kerangka analisis. Hasil/Temuan: Penelitian menemukan bahwa meskipun telah terdapat struktur kolaborasi antara Satpol PP dan Dinas Sosial serta lembaga sosial seperti Apik Mandiri, pelaksanaannya belum maksimal karena adanya ketimpangan sumber daya, lemahnya insentif bagi petugas, serta belum meratanya distribusi peran. Kepemimpinan fasilitatif telah mendorong koordinasi dan pengambilan keputusan, namun perlu penguatan sistem dan struktur koordinasi antar lembaga. Kesimpulan: Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan gepeng di Kota Bandar Lampung telah menunjukkan kemajuan, namun masih perlu diperkuat melalui peningkatan keseimbangan sumber daya, kepemimpinan yang lebih inklusif, dan partisipasi yang lebih luas antar lembaga. Strategi kolaboratif yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi kunci dalam menyelesaikan permasalahan gepeng yang kompleks. Kata Kunci: Kolaborasi Lintas Sektor, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Sosial, Gelandangan dan Pengemis, Kota Bandar Lampung. 13
Penjelasan Field MARC21:
  • 001: Control Number
  • 005: Date and Time of Latest Transaction
  • 020: ISBN
  • 100: Main Entry - Personal Name
  • 245: Title Statement
  • 250: Edition Statement
  • 260: Publication Information
  • 300: Physical Description
  • 650: Subject
  • 700: Added Entry - Personal Name