Detail Katalog
ID: 28727Cover Tidak Tersedia
Gambar cover belum diupload
COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAMPUNG NAMATOTA KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT / Laway, Asry Meylinda
Pengarang:
Laway, Asry Meylinda ; Merintha Suryapuspita
Laway, Asry Meylinda ; Merintha Suryapuspita
Penerbit:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Tempat Terbit:
Jatinangor :
Jatinangor :
Tahun Terbit:
2025
2025
Subjek
Wisata di Kaimana
Deskripsi Fisik:
16
16
Nomor Panggil:
915.988 331 04 LAW c
915.988 331 04 LAW c
Control Number:
INLIS000000001191982
INLIS000000001191982
BIB ID:
0010-0126000427
0010-0126000427
Catatan
Permasalahan: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat,
dan aktor non-pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis komunitas. Kampung
Namatota di Kabupaten Kaimana merupakan salah satu kampung wisata yang memiliki potensi besar
dari aspek alam dan budaya, namun pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan kolaboratif.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana collaborative governance
diterapkan dalam pengembangan pariwisata di Kampung Namatota, dengan fokus pada aktor yang
terlibat, proses kolaborasi, serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi. Metode: Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi
dan dokumentasi, tanpa melibatkan wawancara langsung. Analisis data dilakukan secara tematik
berdasarkan teori collaborative governance dari Ansell dan Gash (2008), yang mencakup empat elemen
utama: dialog tatap muka, pembangunan kepercayaan, komitmen terhadap proses, dan pemahaman
bersama. Metode ini memungkinkan pemahaman detail tentang bentuk kerja sama, peran aktor, serta
dinamika yang terjadi. Informan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan langsung mereka,
meliputi aparat kampung, Dinas Pariwisata, tokoh masyarakat, lembaga adat, dan LSM, guna
memperoleh data yang relevan dan representatif dari berbagai perspektif. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model
interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi untuk menjamin validitas dan reliabilitas informasi.
Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran faktual dan aplikatif mengenai praktik collaborative
governance serta faktor pendukung dan hambatan dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat
di lokasi tersebut. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan collaborative
governance di Kampung Namatota melibatkan Pemerintah Kabupaten Kaimana, Dinas Pariwisata, LSM
Sinara, aparat kampung, dan masyarakat lokal. Kepercayaan antarpihak dan peran aktif LSM Sinara
dalam penguatan kapasitas masyarakat menjadi faktor utama pendukung keberhasilan kolaborasi.
Kesimpulan: Penerapan collaborative governance dalam pengembangan pariwisata di Kampung
Namatota berjalan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai aktor, termasuk Pemerintah
Kabupaten Kaimana, Dinas Pariwisata, LSM Sinara, aparat kampung, dan masyarakat lokal. Faktor
utama yang mendukung keberhasilan kolaborasi ini adalah adanya kepercayaan yang terbangun antar
pihak serta peran aktif LSM Sinara dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Meskipun demikian,
keberlanjutan kolaborasi ini memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak dan pemahaman
bersama yang terus dipupuk agar pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Kampung Namatota
dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kata kunci: Collaborative Governance, Pariwisata, Partisipasi.
dan aktor non-pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis komunitas. Kampung
Namatota di Kabupaten Kaimana merupakan salah satu kampung wisata yang memiliki potensi besar
dari aspek alam dan budaya, namun pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan kolaboratif.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana collaborative governance
diterapkan dalam pengembangan pariwisata di Kampung Namatota, dengan fokus pada aktor yang
terlibat, proses kolaborasi, serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi. Metode: Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi
dan dokumentasi, tanpa melibatkan wawancara langsung. Analisis data dilakukan secara tematik
berdasarkan teori collaborative governance dari Ansell dan Gash (2008), yang mencakup empat elemen
utama: dialog tatap muka, pembangunan kepercayaan, komitmen terhadap proses, dan pemahaman
bersama. Metode ini memungkinkan pemahaman detail tentang bentuk kerja sama, peran aktor, serta
dinamika yang terjadi. Informan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan langsung mereka,
meliputi aparat kampung, Dinas Pariwisata, tokoh masyarakat, lembaga adat, dan LSM, guna
memperoleh data yang relevan dan representatif dari berbagai perspektif. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model
interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi untuk menjamin validitas dan reliabilitas informasi.
Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran faktual dan aplikatif mengenai praktik collaborative
governance serta faktor pendukung dan hambatan dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat
di lokasi tersebut. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan collaborative
governance di Kampung Namatota melibatkan Pemerintah Kabupaten Kaimana, Dinas Pariwisata, LSM
Sinara, aparat kampung, dan masyarakat lokal. Kepercayaan antarpihak dan peran aktif LSM Sinara
dalam penguatan kapasitas masyarakat menjadi faktor utama pendukung keberhasilan kolaborasi.
Kesimpulan: Penerapan collaborative governance dalam pengembangan pariwisata di Kampung
Namatota berjalan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai aktor, termasuk Pemerintah
Kabupaten Kaimana, Dinas Pariwisata, LSM Sinara, aparat kampung, dan masyarakat lokal. Faktor
utama yang mendukung keberhasilan kolaborasi ini adalah adanya kepercayaan yang terbangun antar
pihak serta peran aktif LSM Sinara dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Meskipun demikian,
keberlanjutan kolaborasi ini memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak dan pemahaman
bersama yang terus dipupuk agar pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Kampung Namatota
dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kata kunci: Collaborative Governance, Pariwisata, Partisipasi.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
06645/IPDN/2025 |
|
Baca di tempat | Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor | Tersedia |
Format MARC21 - Total 13 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000001191982 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20260119102939 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-0126000427 | 3 |
| 245 | 1 |
# |
$a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAMPUNG NAMATOTA KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT /$c Laway, Asry Meylinda | 4 |
| 100 | _ |
# |
$a Laway, Asry Meylinda | 5 |
| 300 | # |
# |
$a 16 | 6 |
| 856 | # |
# |
$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24367 | 7 |
| 700 | _ |
# |
$a Merintha Suryapuspita | 8 |
| 260 | # |
# |
$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 | 9 |
| 082 | # |
# |
$a 915.988 331 04 | 10 |
| 084 | # |
# |
$a 915.988 331 04 LAW c | 11 |
| 650 | # |
4 |
$a Wisata di Kaimana | 12 |
| 520 | # |
# |
$a Permasalahan: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan aktor non-pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis komunitas. Kampung Namatota di Kabupaten Kaimana merupakan salah satu kampung wisata yang memiliki potensi besar dari aspek alam dan budaya, namun pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan kolaboratif. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana collaborative governance diterapkan dalam pengembangan pariwisata di Kampung Namatota, dengan fokus pada aktor yang terlibat, proses kolaborasi, serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi, tanpa melibatkan wawancara langsung. Analisis data dilakukan secara tematik berdasarkan teori collaborative governance dari Ansell dan Gash (2008), yang mencakup empat elemen utama: dialog tatap muka, pembangunan kepercayaan, komitmen terhadap proses, dan pemahaman bersama. Metode ini memungkinkan pemahaman detail tentang bentuk kerja sama, peran aktor, serta dinamika yang terjadi. Informan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan langsung mereka, meliputi aparat kampung, Dinas Pariwisata, tokoh masyarakat, lembaga adat, dan LSM, guna memperoleh data yang relevan dan representatif dari berbagai perspektif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi untuk menjamin validitas dan reliabilitas informasi. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran faktual dan aplikatif mengenai praktik collaborative governance serta faktor pendukung dan hambatan dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di lokasi tersebut. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan collaborative governance di Kampung Namatota melibatkan Pemerintah Kabupaten Kaimana, Dinas Pariwisata, LSM Sinara, aparat kampung, dan masyarakat lokal. Kepercayaan antarpihak dan peran aktif LSM Sinara dalam penguatan kapasitas masyarakat menjadi faktor utama pendukung keberhasilan kolaborasi. Kesimpulan: Penerapan collaborative governance dalam pengembangan pariwisata di Kampung Namatota berjalan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai aktor, termasuk Pemerintah Kabupaten Kaimana, Dinas Pariwisata, LSM Sinara, aparat kampung, dan masyarakat lokal. Faktor utama yang mendukung keberhasilan kolaborasi ini adalah adanya kepercayaan yang terbangun antar pihak serta peran aktif LSM Sinara dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Meskipun demikian, keberlanjutan kolaborasi ini memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak dan pemahaman bersama yang terus dipupuk agar pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Kampung Namatota dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Kata kunci: Collaborative Governance, Pariwisata, Partisipasi. | 13 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 19 Jan 2026