Detail Katalog
ID: 28859Cover Tidak Tersedia
Gambar cover belum diupload
MODEL COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM MENGATASI PERMASALAHAN SAMPAH DI KOTA PALEMBANG PROVINSI SUMATERA SELATAN / Nanda Muhammad Syah Putra
Pengarang:
Nanda Muhammad Syah Putra ; Siti Zulaika
Nanda Muhammad Syah Putra ; Siti Zulaika
Penerbit:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Tempat Terbit:
Jatinangor :
Jatinangor :
Tahun Terbit:
2025
2025
Subjek
Pengelolaan Sampah
Deskripsi Fisik:
13 : Ilus
13 : Ilus
Nomor Panggil:
363.728 598 598 161 62 NAN m
363.728 598 598 161 62 NAN m
Control Number:
INLIS000000001192110
INLIS000000001192110
BIB ID:
0010-0126000555
0010-0126000555
Catatan
Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan,
memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan.
Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan,
memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan.
Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan, memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi karena Fasilitas pengolahan sampah di Kota Palembang yang masih sangat terbatas serta kurangnya infrastruktur. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis model collaborative governance dalam pengelolaan sampah di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Metode: Penelitian ini memakai metode penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang dipakai untuk melakukan analisis adalah teori Collaborative Governance oleh Alison Gash dan Chris Ansell(2008) yang memuat 4 dimensi utama yaitu kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan, dan proses kolaborasi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi langsung serta dilakukan triangulasi data dengan jumlah informan 7 orang. Analisis data penelitian mengacu pada konsep Mills dan Huberman, 1992 yaitu Data Reduction, Data Display, dan Conclusions: drawing/verifying. Hasil/Temuan: Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Palembang melakukan proses kolaborasi dengan pihak Masyarakat dan juga pihak ketiga dalam hal ini adalah bank sampah Sakura. Pada dimensi kondisi awal diketahui bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Palembang menyadari akan pentingnya pemaksimalan sumberdaya dan pengetahuan sehingga pemerintah mengambil langkah collaborative governance untuk dilaksanakan, pada dimensi desain kelembagaan diketahui bahwa masing masing aktor kolaborasi memiliki kewenangan atau inklusivitas yang baik terbukti dengan adanya pembagian tugas yang jelas baik pemerintah, pihak swasta, maupun Masyarakat dan juga sudah ada dasar hukum yang jelas, pada dimensi kepemimpinan diketahui bahwa kepala dinas sudah memiliki kesadaran tentang pentingnya sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat, dimensi proses kolaborasi diketahui sudah berjalan dengan baik meskipun terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Kesimpulan: penerapan model governance kolaboratif di Kota Palembang dapat meningkatkan pengelolaan sampah, tetapi memerlukan perhatian pada semua dimensi yang telah diidentifikasi. Sehingga harapanya kedepan dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat KataKunci:Collaborative Governance, Pengelolaan Sampah, Partisipasi Masyarakat.
memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan.
Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan,
memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan.
Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan, memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi karena Fasilitas pengolahan sampah di Kota Palembang yang masih sangat terbatas serta kurangnya infrastruktur. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis model collaborative governance dalam pengelolaan sampah di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Metode: Penelitian ini memakai metode penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang dipakai untuk melakukan analisis adalah teori Collaborative Governance oleh Alison Gash dan Chris Ansell(2008) yang memuat 4 dimensi utama yaitu kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan, dan proses kolaborasi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi langsung serta dilakukan triangulasi data dengan jumlah informan 7 orang. Analisis data penelitian mengacu pada konsep Mills dan Huberman, 1992 yaitu Data Reduction, Data Display, dan Conclusions: drawing/verifying. Hasil/Temuan: Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Palembang melakukan proses kolaborasi dengan pihak Masyarakat dan juga pihak ketiga dalam hal ini adalah bank sampah Sakura. Pada dimensi kondisi awal diketahui bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Palembang menyadari akan pentingnya pemaksimalan sumberdaya dan pengetahuan sehingga pemerintah mengambil langkah collaborative governance untuk dilaksanakan, pada dimensi desain kelembagaan diketahui bahwa masing masing aktor kolaborasi memiliki kewenangan atau inklusivitas yang baik terbukti dengan adanya pembagian tugas yang jelas baik pemerintah, pihak swasta, maupun Masyarakat dan juga sudah ada dasar hukum yang jelas, pada dimensi kepemimpinan diketahui bahwa kepala dinas sudah memiliki kesadaran tentang pentingnya sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat, dimensi proses kolaborasi diketahui sudah berjalan dengan baik meskipun terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Kesimpulan: penerapan model governance kolaboratif di Kota Palembang dapat meningkatkan pengelolaan sampah, tetapi memerlukan perhatian pada semua dimensi yang telah diidentifikasi. Sehingga harapanya kedepan dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat KataKunci:Collaborative Governance, Pengelolaan Sampah, Partisipasi Masyarakat.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
06718/IPDN/2025 |
|
Baca di tempat | Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor | Tersedia |
Format MARC21 - Total 13 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000001192110 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20260120111349 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-0126000555 | 3 |
| 245 | 1 |
# |
$a MODEL COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM MENGATASI PERMASALAHAN SAMPAH DI KOTA PALEMBANG PROVINSI SUMATERA SELATAN /$c Nanda Muhammad Syah Putra | 4 |
| 100 | _ |
# |
$a Nanda Muhammad Syah Putra | 5 |
| 300 | # |
# |
$a 13 : $b Ilus | 6 |
| 700 | _ |
# |
$a Siti Zulaika | 7 |
| 260 | # |
# |
$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 | 8 |
| 082 | # |
# |
$a 363.728 598 598 161 62 | 9 |
| 084 | # |
# |
$a 363.728 598 598 161 62 NAN m | 10 |
| 650 | # |
4 |
$a Pengelolaan Sampah | 11 |
| 520 | # |
# |
$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan, memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan, memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Palembang, sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan, memiliki timbunan sampah paling banyak dibanding kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Diketahui data terakhir tahun 2023 timbunan sampah mencapai 439.815,66 ton. Hal ini dilatarbelakangi karena Fasilitas pengolahan sampah di Kota Palembang yang masih sangat terbatas serta kurangnya infrastruktur. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis model collaborative governance dalam pengelolaan sampah di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Metode: Penelitian ini memakai metode penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang dipakai untuk melakukan analisis adalah teori Collaborative Governance oleh Alison Gash dan Chris Ansell(2008) yang memuat 4 dimensi utama yaitu kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan, dan proses kolaborasi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi langsung serta dilakukan triangulasi data dengan jumlah informan 7 orang. Analisis data penelitian mengacu pada konsep Mills dan Huberman, 1992 yaitu Data Reduction, Data Display, dan Conclusions: drawing/verifying. Hasil/Temuan: Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Palembang melakukan proses kolaborasi dengan pihak Masyarakat dan juga pihak ketiga dalam hal ini adalah bank sampah Sakura. Pada dimensi kondisi awal diketahui bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Palembang menyadari akan pentingnya pemaksimalan sumberdaya dan pengetahuan sehingga pemerintah mengambil langkah collaborative governance untuk dilaksanakan, pada dimensi desain kelembagaan diketahui bahwa masing masing aktor kolaborasi memiliki kewenangan atau inklusivitas yang baik terbukti dengan adanya pembagian tugas yang jelas baik pemerintah, pihak swasta, maupun Masyarakat dan juga sudah ada dasar hukum yang jelas, pada dimensi kepemimpinan diketahui bahwa kepala dinas sudah memiliki kesadaran tentang pentingnya sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat, dimensi proses kolaborasi diketahui sudah berjalan dengan baik meskipun terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Kesimpulan: penerapan model governance kolaboratif di Kota Palembang dapat meningkatkan pengelolaan sampah, tetapi memerlukan perhatian pada semua dimensi yang telah diidentifikasi. Sehingga harapanya kedepan dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat KataKunci:Collaborative Governance, Pengelolaan Sampah, Partisipasi Masyarakat. | 12 |
| 856 | # |
# |
$a - | 13 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 20 Jan 2026