Detail Katalog

ID: 28899
Cover Tidak Tersedia

Gambar cover belum diupload

PENGEMBANGAN EKOWISATA DENGAN MODEL PENTAHELIX DI KAMPUNG WISATA ADAT MALASIGI DISTRIK KLAYILI KABUPATEN SORONG PROVINSI PAPUA BARAT DAYA / Dinda Shaafiya Salsabila

Pengarang:
Dinda Shaafiya Salsabila ; Samsul Arifin
Penerbit:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN),
Tempat Terbit:
Jatinangor :
Tahun Terbit:
2025
Subjek
Pariwisata di Kaylili
Deskripsi Fisik:
13
Nomor Panggil:
915.988 312 04 DIN p
Control Number:
INLIS000000001192150
BIB ID:
0010-0126000595
Catatan
Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kampung Wisata Adat Malasigi yang terletak di provinsi Papua Barat daya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis alam dan budaya. Namun, pengembangan ekowisata di kawasan ini masih terkendala oleh kurangnya kolaborasi antara pemangku kepentingan dan terbatasnya infrastruktur yang mendukung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengembangan ekowisata dengan menggunakan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumentasi, peneltian ini menggunakan 6 informan yang dipilih secara purposive, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam pengembangan ekowisata di Kampung Malasigi. Informan berasal dari lima unsur model pentahelix, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni Teori Pentahelix dari Riyanto (2018), yang mencakup lima dimensi, yaitu pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Hasil/Temuan: Temuan yang diperoleh oleh penulis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang efektif antara pemangku kepentingan sangat penting untuk mengoptimalkan potensi ekowisata, meskipun masih terdapat hambatan seperti rendahnya pemahaman masyarakat tentang ekowisata dan terbatasnya akses infrastruktur. Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan ekowisata di Kampung Wisata Adat Malasigi memerlukan peningkatan kerjasama antar pemangku kepentingan, pemberdayaan masyarakat, serta perbaikan infrastruktur agar ekowisata dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Kata Kunci: pentahelix, ekowisata, pengembangan pariwisata
Status
Tersedia di OPAC Bibliografi Nasional Indonesia Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
Nomor Barcode Nomor Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
00143/IPDN/2026 Baca di tempat Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Format MARC21 - Total 13 field
Tag Ind1 Ind2 Nilai Urutan
001 _ _ INLIS000000001192150 1
005 _ _ 20260121064559 2
035 # # $a 0010-0126000595 3
245 1 # $a PENGEMBANGAN EKOWISATA DENGAN MODEL PENTAHELIX DI KAMPUNG WISATA ADAT MALASIGI DISTRIK KLAYILI KABUPATEN SORONG PROVINSI PAPUA BARAT DAYA /$c Dinda Shaafiya Salsabila 4
100 _ # $a Dinda Shaafiya Salsabila 5
300 # # $a 13 6
856 # # $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24547 7
700 _ # $a Samsul Arifin 8
260 # # $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN),$c 2025 9
082 # # $a 915.988 312 04 10
084 # # $a 915.988 312 04 DIN p 11
650 # 4 $a Pariwisata di Kaylili 12
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kampung Wisata Adat Malasigi yang terletak di provinsi Papua Barat daya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis alam dan budaya. Namun, pengembangan ekowisata di kawasan ini masih terkendala oleh kurangnya kolaborasi antara pemangku kepentingan dan terbatasnya infrastruktur yang mendukung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengembangan ekowisata dengan menggunakan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumentasi, peneltian ini menggunakan 6 informan yang dipilih secara purposive, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam pengembangan ekowisata di Kampung Malasigi. Informan berasal dari lima unsur model pentahelix, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni Teori Pentahelix dari Riyanto (2018), yang mencakup lima dimensi, yaitu pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Hasil/Temuan: Temuan yang diperoleh oleh penulis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang efektif antara pemangku kepentingan sangat penting untuk mengoptimalkan potensi ekowisata, meskipun masih terdapat hambatan seperti rendahnya pemahaman masyarakat tentang ekowisata dan terbatasnya akses infrastruktur. Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan ekowisata di Kampung Wisata Adat Malasigi memerlukan peningkatan kerjasama antar pemangku kepentingan, pemberdayaan masyarakat, serta perbaikan infrastruktur agar ekowisata dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Kata Kunci: pentahelix, ekowisata, pengembangan pariwisata 13
Penjelasan Field MARC21:
  • 001: Control Number
  • 005: Date and Time of Latest Transaction
  • 020: ISBN
  • 100: Main Entry - Personal Name
  • 245: Title Statement
  • 250: Edition Statement
  • 260: Publication Information
  • 300: Physical Description
  • 650: Subject
  • 700: Added Entry - Personal Name