=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001192054 =005 20260120093637 =035 ##$$a 0010-0126000499 =245 1#$$a IMPLEMENTASI PROGRAM LORONG WISATA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT : $b STUDI LORONG KYOTO KELURAHAN PARANG TAMBUNG KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR /$c Elza Rezky Saputry =100 #$$a Elza Rezky Saputry =300 ##$$a 11 =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/23854 =700 #$$a Jamaruddin =260 ##$$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 =082 ##$$a 336.925 984 771 =084 ##$$a 336.925 984 771 ELZ i =650 #4$$a pendapatan asli daerah =520 ##$$a Permasalahan (GAP): Peningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata. Dalam hal ini, Pemerintah Kota Makassar membentuk suatu gagasan disektor pariwisata dengan memaksimalkan potensi masyarakat yang ada di lorong dengan membuat Program Lorong Wisata di Kota Makassar. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan Implementasi Kebijakan Peraturan Walikota Makasssar No 94 Tahun 2022 Tentang Pembentukan Lorong Wisata, mengatahui faktor pendukung dan penghambat Implementasi Program Lorong Wisata, serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi faktor penghambat Implementasi Program Lorong Wisata di Lorong Kyoto Kota Makassar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam (9 informan), dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Berdasarkan hasil penelitian, Implementasi Program Lorong Wisata di Lorong Kyoto Kota Makassar secara umum sudah berjalan dengan baik. Kesimpulan: Keberhasilan program ini dapat dilihat dari adanya peningkatan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di lorong wisata tersebut. Misalnya, Sanggar Batara Gowa mencatat kenaikan pendapatan sekitar 20–25 persen. Usaha penyewaan Mega Baju Bodo naik dari Rp2.500.000 menjadi sekitar Rp4.000.000 per bulan. UMKM Pancake Durian Medan Nurul mengalami peningkatan 15–20 persen, dari Rp5.000.000 menjadi Rp5.700.000–Rp6.000.000. Pendapatan penjual kue baruasa naik dari Rp2.000.000 menjadi Rp2.800.000 per bulan, sementara penjualan gorengan meningkat dari Rp200.000–Rp250.000 menjadi Rp300.000–Rp400.000 per hari. Adapun UMKM Kue Surabe mencatat kenaikan dari Rp750.000 menjadi Rp1.500.000 per bulan. Namun, masih adanya kendala yaitu keterbatasan finansial berupa anggaran dalam pengembangan program lorong wisata dan program top-down pemerintah tidak berjalan optimal. Kata Kunci: Implementasi, Peningkatan Pendapatan, Lorong Wisata