=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001192124 =005 20260120021559 =035 ##$$a 0010-0126000569 =245 1#$$a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PERCEPATAN OPEN DEFECATION FREE (ODF) GUNA MEWUJUDKAN KOTA SEHAT DI KOTA BOGOR PROVINSI JAWA BARAT /$c Sanda, Aprina Putri =100 #$$a Sanda, Aprina Putri =300 ##$$a 10 : $b Ilus =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/20755 =700 #$$a Nur Handayani =260 ##$$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 =082 ##$$a 363.725 982 412 =084 ##$$a 363.725 982 412 SAN c =650 #4$$a Sanitasi Publik =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Tata kelola pemerintahan tidak hanya berfokus pada urusan administrasi, tetapi juga berupa kolaborasi pemerintahan yang melibatkan masyarakat serta pihak ketiga. Sebagaimana percepatan program Open Defecation Free (ODF) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bogor untuk dapat kembali meraih penghargaan Kota Sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kolaborasi yang terjadi antara Pemerintah Kota Bogor dengan stakeholders. Metode: Dengan metode kualitatif pendekatan deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan diakhiri penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Ditinjau dari teori collaborative governance Ansell dan Gash (2007) dengan empat dimensi utama, hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan collaborative governance dalam percepatan ODF di Kota Bogor guna mewujudkan Kota Sehat sudah berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pencapaian target pembangunan ODF yang cukup signifikan dan memenuhi standar minimal keikutsertaan penilaian Kabupaten/Kota Sehat. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mendukung jalannya kolaborasi, diantaranya tercukupinya sumber daya manusia, adanya komitmen kepala daerah, deklarasi kelurahan ODF, dan inovasi program “Kantong Lober”. Namun dalam pelaksanaannya terdapat hambatan yang dihadapi berupa minimnya anggaran yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Bogor, rendahnya kesadaran masyarakat, dan sulitnya aksesibilitas geografis. Kesimpulan: Collaborative governance dalam percepatan odf guna mewujudkan kota sehat di kota bogor sudah baik, hal ini dikarenakan adanya kolaborasi antara pemerintah dengan stakeholders lainnya. Guna meningkatkan anggaran pembangunan pemerintah kota bogor dapat mengalokasikan dana perangkat daerah dalam mendukung pembangunan dan mengedukasi masyarakat secara berkala. Kata Kunci: Collaborative Governance, Kota Sehat, Open Defecation Free