=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001192211 =005 20260121105004 =035 ##$$a 0010-0126000656 =245 1#$$a SMART ENVIRONMENT MELALUI PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT /$c Karina Aprillia =100 #$$a Karina Aprillia =300 ##$$a 13 =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/23781 =700 #$$a Nur Handayani =260 ##$$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 =082 ##$$a 307.760 959 824 =084 ##$$a 307.760 959 824 KAR s =650 #4$$a Masyarakat Perkotaan =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya proporsi ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung yang baru mencapai 12,47%, jauh di bawah standar nasional 30%. Selain itu, Kota Bandung menjadi penyumbang terbesar sampah ke TPA Sarimukti dengan rata-rata 172 ritase per hari, serta masih terbatasnya pemanfaatan teknologi lingkungan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal smart environment dan implementasinya di lapangan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana smart environment melalui penataan ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara (8 informan), observasi, dan dokumentasi yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan berdasarkan konsep smart environment menurut Boyd Cohen yang terdiri dari tiga dimensi yaitu smart buildings, resource management, dan sustainable urban planning, yang mencakup total sepuluh indikator. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi smart buildings, penerapan bangunan hijau dan rumah pintar belum optimal. Pada resource management, telah diterapkan AQMS, panel surya, dan program pengelolaan sampah, namun irigasi dan pengelolaan air masih manual. Pada sustainable urban planning, pembangunan taman tematik dan integrasi isu lingkungan telah dilakukan, namun luas RTH baru mencapai 12,47%. Faktor pendukung meliputi regulasi dan keterlibatan komunitas, sedangkan hambatan mencakup keterbatasan lahan, SDM, dan koordinasi. Pemerintah juga telah melakukan revitalisasi taman dan digitalisasi data RTH. Kesimpulan: Penerapan smart environment melalui penataan ruang terbuka hijau di Kota Bandung telah menunjukkan kemajuan awal, namun masih belum optimal. Diperlukan penguatan implementasi, pemanfaatan teknologi yang lebih luas, serta kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kota yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Kata kunci: Smart Environment, Smart City, Ruang Terbuka Hijau, Kota Bandung.