=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001192316 =005 20260122112528 =035 ##$$a 0010-0126000761 =245 1#$$a PERKEMBANGAN FUNGSI RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN PERKANTORAN DAN PERMUKIMAN DI KOTA BANDUNG /$c Wirajati Pujo Raharjo =100 #$$a Wirajati Pujo Raharjo =300 ##$$a 17 =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/25001 =700 #$$a Eko Budi Santoso =260 ##$$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 =082 ##$$a 712.559 824 32 =084 ##$$a 712.559 824 32 WIR p =650 #4$$a ruang terbuka hijau =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah belum seimbangnya pemanfaatan fungsi-fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung, khususnya di kawasan perkantoran dan permukiman. Ketidakseimbangan dalam pengembangan fungsi ekologis, sosial budaya, arsitektural/estetika, dan ekonomi pada RTH disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain: penurunan fungsi RTH yang terjadi akibat alih fungsi lahan dan degradasi lingkungan; tekanan infrastruktur serta aktivitas manusia yang intensif di kawasan perkotaan; minimnya vegetasi yang berkualitas dalam menunjang fungsi ekologis; sebaran RTH yang tidak merata antar kawasan; kurangnya partisipasi masyarakat dan lemahnya sistem perawatan yang berkelanjutan; keterbatasan anggaran dalam pengelolaan dan pengembangan RTH; serta tumpang tindih kewenangan antar instansi yang menyebabkan tidak terkoordinasinya pengelolaan RTH secara efektif. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan fungsi RTH di kawasan perkantoran dan permukiman di Kota Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada empat lokasi, yaitu Taman Lansia, Taman Alun-Alun Bandung, Taman Tegalega, dan Teras Cikapundung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fungsi ekologis, Taman Tegalega berperan besar sebagai paru-paru kota, Taman Lansia dan Teras Cikapundung turut mendukung melalui ruang hijau dan bantaran sungai. Dari sisi sosial budaya, keempat taman menjadi ruang interaksi dan edukasi masyarakat. Alun-Alun Bandung dan Tegalega unggul dalam fungsi ekonomi, sementara Taman Lansia dan Teras Cikapundung masih perlu pengembangan. Secara estetika, masing-masing taman memiliki kekhasan visual yang mendukung kenyamanan kota. Beberapa tantangan masih ditemukan, seperti kurangnya vegetasi di Alun-Alun Bandung, vandalisme di Taman Lansia, serta keterbatasan kontribusi ekonomi di Teras Cikapundung. Kesimpulan: Kesimpulannya, perkembangan fungsi RTH di Kota Bandung menunjukkan potensi yang beragam sesuai karakter kawasan, sehingga dibutuhkan pengelolaan yang terarah dan berkelanjutan agar setiap fungsi dapat berkembang secara optimal. Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, fungsi RTH, Kota Bandung