=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001192491 =005 20260127084454 =035 ##$$a 0010-0126000936 =245 1#$$a KOLABORASI MULTI-STAKEHOLDER DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN /$c Nabilah Ramahadi Putri =100 #$$a Nabilah Ramahadi Putri =300 ##$$a 12 =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/20229 =700 #$$a Lalu Ahmad Murdhani =260 ##$$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 =082 ##$$a 363.725 984 7 =084 ##$$a 363.725 984 7 NAB k =650 #4$$a Sanitasi lingkungan =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang meningkat telah menyebabkan timbulan sampah di Kota Parepare semakin tinggi, mencapai rata-rata 79,33 ton per hari. Hal ini diperparah oleh rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah, sehingga menimbulkan persoalan lingkungan yang kompleks. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kolaborasi multi-stakeholder dalam pengelolaan sampah di Kota Parepare menggunakan teori collaborative governance dari Ansell dan Gash. Dalam konteks tersebut, kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan menjadi krusial. Metode: Penelitian ini menggunakan teori collaborative governance yang dikembangkan oleh Ansell dan Gash, yang menekankan pentingnya pengambilan keputusan secara kolektif antara aktor publik dan non-publik secara formal dan berorientasi pada konsensus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dari berbagai pihak seperti Dinas Lingkungan Hidup serta komunitas masyarakat di Kota Parepare. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi multi-stakeholder di Kota Parepare sudah mulai terbentuk, khususnya dalam kegiatan pengangkutan, pengumpulan, dan edukasi masyarakat. Namun, masih terdapat berbagai hambatan, seperti koordinasi antar pihak yang belum optimal, keterbatasan dana, serta peran aktif masyarakat yang belum konsisten. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan ini antara lain adalah penguatan peran fasilitator dari pemerintah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pelibatan komunitas lokal dalam perencanaan dan implementasi kegiatan pengelolaan sampah. Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan struktur kelembagaan kolaboratif, peningkatan literasi lingkungan di masyarakat, serta optimalisasi peran sektor swasta dalam mendukung pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Kolaborasi yang efektif diharapkan dapat menjadi solusi strategis dalam mewujudkan Kota Parepare yang bersih dan berdaya saing lingkungan. Kata Kunci: kolaborasi, multi-stakeholder, pengelolaan sampah, collaborative governance.