=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001194302 =005 20260219105954 =035 ##$$a 0010-0226001386 =245 1#$$a PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL BAUNTUNG BERSTANDAR NASIONAL INDONESIA PERTAMA OLEH DINAS PERDAGANGAN DI KOTA BANJARBARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN /$c MUHAMMAD FIKRI AUFA =100 #$$a MUHAMMAD FIKRI AUFA =300 ##$$a 8 hlm =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/16019 =700 #$$a Abdurohim =260 ##$$a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2023 =082 ##$$a 352.509 598 361 3 =084 ##$$a 352.509 598 361 3 MUH p =650 #4$$a Administrasi Properti =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Perdagangan di Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian rakyat yang dapat membantu kesejahteraan masyarakat. Pasar tradisional sebagai salah satu sektor perdagangan yang berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat, perlu diperhatikan dalam pengembangannya. Upaya Pemerintah Kota Banjarbaru untuk merevitalisasi Pasar Tradisional Bauntung dalam rangka menghadapi gempuran pasar-pasar modern, bertujuan untuk pengembangan pasar tersebut menjadi pasar Berstandar Nasional Indonesia. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis bagaimanakah pengembangan Pasar Tradisional Bauntung ber-Standar Nasional Indonesia pertama oleh Dinas Perdagangan di Kota Banjarbaru. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Hasil dari penelitian ini adalah Pengembangan Pasar Tradisional Bauntung Berstandar Nasional Indonesia di Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan sudah berjalan dengan baik. Namun, masih ada beberapa kendala yang dialami dalam proses perkembangannya. Hal tersebut dapat diukur melalui teori Revitalisasi (Danisworo, 2002) yang terdiri dari 3 dimensi yaitu intervensi fisik, rehabilitasi ekonomi, dan revitalisasi sosial/institusional. Kesimpulan: Dalam rangka pengembangan Pasar Tradisional Bauntung menjadi Pasar Berstandar Nasional Indonesia terdapat faktor penghambat yaitu, masih perlu adanya pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, masyarakat yang belum mau dipindahkan ke lokasi yang baru, serta belum tersedianya jalur untuk angkutan umum. Upaya Pemerintah Kota Banjarbaru untuk mengatasi hambatan tersebut dengan melakukan konsultasi publik, penanganan pengaduan, serta evaluasi dan monitoring.