=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001194944 =005 20260406012949 =035 ##$$a 0010-0426000089 =245 1#$$a EFEKTIVITAS PROGRAM SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA BAGI PENYANDANG DISABILITAS : $b Studi Kasus pada Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta /$c Ardayoga Sandi Satria =100 #$$a Ardayoga Sandi Satria =300 ##$$a 10 =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/13759 =700 #$$a Sutiyo =260 ##$$a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2023 =082 ##$$a 362.159 827 =084 ##$$a 362.159 827 ARD e =650 #4$$a Permasalahan dan Layanan yang Berhubungan dengan Sakit Fisik, Layanan Medis =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki beragam potensi bencana alam, salah satunya adalah Gempabumi. Sejarah menunjukan Gempabumi tahun 2006 di Kabupaten Bantul mengakibatkan banyak kerugian, salah satunya pada bidang pendidikan. Selain itu juga menimbulkan banyak korban yang didominasi oleh kelompok rentan salah satunya penyandang disabilitas. Untuk itu BPBD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta membentuk program Satuan Pendidikan Aman Bencana untuk meningkatkan kapasitas siswa disabilitas serta memfasilitasi dalam menghadapi potensi bencana. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas program Satuan Pendidikan Aman Bencana bagi penyandang disabilitas khususnya pada SLB Negeri 1 Bantul. Metode: Penelitian kali ini menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan induktif. Teknik pengumpulandata yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, penyimpulan dan verifikasi, dan kesimpulan akhir. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat efektivitas pelaksanaan program Satuan Pendidikan Aman Bencana pada SLB Negeri 1 Bantul telah berjalan dengan efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari kesesuaian capaian program dengan tujuan, warga sekolah yang dapat menyesuaikan dengan program, dan kemampuan pihak sekolah dan BPBD dalam mensosialisasikan program dengan baik. Adapunyang menjadi kendala pada pelaksanaan program ini yakni keterbatasan anggaran dan tenaga pendidik serta kondisi bangunan sekolah yang dianggap kurang dari standar bangunan aman bencana. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut adalah dengan mengupayakan alokasi anggaran khusus SPAB dan memberikan pembekalan wawasan kebencanaan khusus disabilitas bagi guru sekolah serta terus mengajukan renovasi bangunan kepada pemerintah. Kesimpulan: Program SPAB bagi penyandang disabilitas sudah berjalan dengan efektif. namun, masih adanya kekurangan yang harus dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi pihak yang berwenang untuk menyempurnakan program.