=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001195049 =005 20260408091749 =035 ##$$a 0010-0426000194 =245 1#$$a PENGARUH POLITIK IDENTITAS TERHADAP KEMENANGAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH DI KABUPATEN SINTANG /$c Graceylla Robyn =100 #$$a Graceylla Robyn =300 ##$$a 7 =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/14386 =700 #$$a Adfin Rochmad Baidhowah =260 ##$$a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2023 =082 ##$$a 324.959 811 =084 ##$$a 324.959 811 GRA p =650 #4$$a Politik identitas =520 ##$$a Latar Belakang: Dalam penulisan skripsi ini, pembahasan yang akan diangkat oleh peneliti adalah tentang pelaksaan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Sintang dengan melihat peran politik identitas pada pelaksanaan pemilihan tersebut. Tujuan: Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh politik identitas pada pemilihan kepala daerah di Kabupaten Sintang dan seberapa besar pengaruh politik identitas tersebut. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskripstif, yang hasil dan pembahasannya melalui data yang telah diolah Aplikasi SPSS dan dideskripsikan secara rinci. Dalam penulisan skripsi ini, teori yang digunakan adalah teori Pierre Van den Bergh untuk politik identitas dengan membagi tiga dimensi yaitu primodialisme, konstruktivis dan instrumentalisme dan Goran Hayden untuk kemenangan pemilihan kepala daerah membagi tiga dimensi yaitu dimensi actor, dimensi struktur dan dimensi empiris. Hasil: Ditemukan bahwa pengaruh politik identitas terhadap kemenangan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Sintang dalam kategori baik, selain itu politik identitas berpengaruh terhadap masyarakat di Kabupaten Sintang namun hanya sebesar 3,3 % Adapun demikian, politik identitas tidak memiliki hubungan dengan kemenangan kepala daerah karena memiliki tanda korelasi negatif nilai pengaruh politik identitas tinggi maka nilai kemenangan pemilihan kepala daerah akan rendah. Kesimpulan: daerah yang menggunakan taktik politik identitas maka yang terjadi masyarakat Kabupaten Sintang tidak akan memilih calon tersebut, seperti dilihat tanda negatif pada hasil korelasi tersebut. sebagaimana menunjukkan bahwa masyarakat memilih kepala daerah berdasarkan kualitas melainkan bukan atas dasar etnis,ras,suku dan agama dari pasangan calon kepala daerah.