=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000001195513 =005 20260417084455 =035 ##$$a 0010-0426000658 =245 1#$$a STRATEGI MITIGASI BENCANA BANJIR PADA WILAYAH DAERAH ALIRAN SUNGAI WANGGU DI KOTA KENDARI PROVINSI SULAWESI TENGGARA /$c Widyastuti =100 #$$a Widyastuti =300 ##$$a 10 : $b ilus =856 ##$$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/14823 =700 #$$a Sri Heryati =260 ##$$a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2023 =082 ##$$a 363.349 309 598 483 1 =084 ##$$a 363.349 309 598 483 1 WID s =650 #4$$a Mitigasi Banjir =520 ##$$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banjir yang terjadi hampir setiap tahun, yang terbesar terjadi pada tahun 2013 telah mengakibatkan kerusakan sarana dan prasarana, fasilitas umum, kebun, sawah dan daerah permukiman terutama pada daerah disekitar alur dan muara Sunggai Wanggu. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis strategi BPBD Kota Kendari dalam mitigasi bencana banjir. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif metode deskriptif dengan pendekatan induktif. Selain itu, sumber data penulis adalah person (orang), place (tempat), dan paper (dokumen) dengan teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori Analisis Strategi menurut Kooten. Hasil/Temuan: Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan tentang strategi Badan Penanggulagan Bencana Daerah Kota Kendari dalam mitigasi bencana banjir bahwa dalam beberapa indikator telah terlaksana denga baik. Namun, masih terdapat kekurangan yang krusial yaitu kelembagaan dari BPBD Kota Kendari membuat program – program kebencanaan kurang bisa dilaksanakan dengan lancar hal ini juga dikarenakan Pemerintah Kota Kendari kurang memperhatikan instansi kebencanaan karena merasa bencana yang dampaknya besar jarang terjadi di Kota Kendari. Kesimpulan: Strategi Badan Penanggulangan Bencana Banjir di Kota Kendari belum sepenuhnya maksimal. BPBD telah melakukan sesosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tetapi belum maksimal diterapkan oleh masyarakat,sehingga tidak munculnya kemandirian masyarakat dalam menangani bencana banjir.