<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001192052</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260120093226</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0126000497</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA KAMPUNG ADAT GEBONG MEMARONG DI DESA GUNUNG MUDA KECAMATAN BELINYU KABUPATEN BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG /</subfield>
      <subfield code="c">Fadli Hakim</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Fadli Hakim</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">16</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24834</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Ridwan</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jatinangor :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri,</subfield>
      <subfield code="c">2025</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">915.981 631 204</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">915.981 631 204 FAD s</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Wisata di Belinyu</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Pengembangan wisata budaya di Indonesia umumnya masih&#13;
terfokus pada destinasi-destinasi populer, sehingga potensi wisata berbasis komunitas adat belum&#13;
tergarap maksimal. Kampung Adat Gebong Memarong di Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka,&#13;
memiliki kekayaan budaya dan ekologis yang tinggi, namun belum dikembangkan optimal sebagai&#13;
destinasi wisata akibat keterbatasan infrastruktur, promosi digital yang minim, serta rendahnya&#13;
kolaborasi antar pihak terkait. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan&#13;
strategi pengembangan wisata Kampung Adat Gebong Memarong berbasis kerangka Triple Bottom&#13;
Line (Profit, People, Planet). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif&#13;
dengan teori Triple Bottom Line (TBL). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi,&#13;
dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap enam informan kunci. Informan dipilih secara&#13;
purposive karena memiliki keterlibatan langsung dalam pengelolaan dan kebijakan wisata, terdiri dari&#13;
Kepala Desa Gunung Muda, Ketua Lembaga Adat Mapur, pelaku UMKM, pengelola wisata,&#13;
wisatawan, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka. Jumlah dan komposisi&#13;
informan dipilih untuk merepresentasikan tiga dimensi keberlanjutan: profit, people, dan&#13;
planet.Hasil/Temuan: Strategi yang dirumuskan mencakup: (1) pemberdayaan ekonomi melalui&#13;
UMKM dan wisata budaya; (2) peningkatan partisipasi aktif masyarakat adat Mapur khususnya&#13;
generasi muda; dan (3) pelestarian nilai budaya tradisional dan keberlanjutan lingkungan.&#13;
Kesimpulan: Strategi pengembangan berbasis TBL mampu menghadirkan pendekatan yang holistik&#13;
antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan. Kolaborasi antara&#13;
pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat menjadi kunci utama pengembangan wisata&#13;
berkelanjutan di Gebong Memarong.&#13;
Kata Kunci: Wisata Budaya; Komunitas Adat; Strategi Pengembangan; Triple Bottom Line; Gebong&#13;
Memarong.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
