<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001192169</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260121091618</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0126000614</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">KOORDINASI DALAM PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA STUNTING DI KOTA BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA /</subfield>
      <subfield code="c">Grandhill Christian Rotinsulu</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Grandhill Christian Rotinsulu</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">16</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24936</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Eva Eviany</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jatinangor :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri,</subfield>
      <subfield code="c">2025</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">616.395 984 232</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">616.395 984 232 GRA k</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">kurang gizi</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Rumusan Masalah/Latar Belakang (GAP): Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta menjadi indikator kualitas sumber daya manusia. Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, menempati peringkat ke-5 dari 15 kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi di provinsi tersebut. Meskipun Pemerintah Kota Bitung telah mencanangkan berbagai program seperti edukasi pranikah, pemberian makanan tambahan di sekolah, serta Gerakan Minum Susu (GERIMIS), angka&#13;
stunting masih berada pada 3,10% pada tahun 2022. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan program percepatan penurunan stunting dengan capaian yang&#13;
diharapkan. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis koordinasi lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting di Kota Bitung. Metode: Penelitian ini menggunakan&#13;
metode deskriptif kualitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi dalam&#13;
percepatan penurunan stunting telah dilakukan melalui forum lintas sektor dan pelaksanaan&#13;
program konvergensi, namun belum berjalan optimal. Terdapat 3 Dimensi yang menghadapi&#13;
kendala yaitu: komunikasi, pembagian kerja, dan disiplin. Faktor geografis wilayah kepulauan,&#13;
minimnya pelatihan kader, serta kurangnya integrasi program turut menghambat efektivitas&#13;
pelaksanaan. Namun demikian, terdapat kontribusi positif berupa peningkatan kesadaran&#13;
masyarakat, peran aktif PKK dalam edukasi pranikah, dan intervensi gizi spesifik di sekolah.&#13;
Kesimpulan: Koordinasi lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting di Kota&#13;
Bitung belum optimal. Diperlukan penguatan komunikasi, kejelasan pembagian peran antar&#13;
instansi, peningkatan kapasitas kader, serta pemanfaatan teknologi untuk mengatasi hambatan&#13;
geografis. Koordinasi yang efektif akan mendukung pencapaian target nasional penurunan&#13;
stunting secara berkelanjutan.&#13;
Kata Kunci: Stunting, Koordinasi, Kota Bitung, Lintas Sektor, Konvergensi</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
