<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001192736</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260128014454</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0126001181</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">IMPLEMENTASI KEBIJAKAN OTONOMI KHUSUS DALAM RANGKA MENGURANGI ANGKA KEMISKINAN ORANG ASLI PAPUA DI KABUPATEN JAYAPURA /</subfield>
      <subfield code="c">Marthin Adelberth Sesa</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Marthin Adelberth Sesa</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">13 :</subfield>
      <subfield code="b">Ilus</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24786</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Baharuddin Thahir</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jatinangor :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri,</subfield>
      <subfield code="c">2025</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">353.530 959 881 73</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">353.530 959 881 73  MAR i</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Program untuk Kesejahteraan Rakyat</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Provinsi Papua masih menjadi salah satu wilayah di&#13;
Indonesia yang menghadapi tantangan kemiskinan yang serius. Kondisi geografis yang sulit&#13;
dijangkau, infrastruktur yang belum memadai, serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar&#13;
menjadi faktor utama tingginya angka kemiskinan, khususnya di kalangan Orang Asli Papua&#13;
(OAP) yang berada di Kabupaten Jayapura. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis implementasi kebijakan Otonomi Khusus dalam upaya mengurangi angka &#13;
kemiskinan Orang Asli Papua di Kabupaten Jayapura. Metode: Penelitian ini menggunakan&#13;
pendekatan Kualitatif Deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena model kualitatif mampu&#13;
mendeskripsikan topik dengan rinci dan mendalam sehingga masalah dapat dianalisis dengan lebih&#13;
baik. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi serta&#13;
dilakukan triangulasi data. Teori utama yang dipakai untuk menganalisis topik ini adalah teori&#13;
implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn. Infoman yang dilibatkan dalam penelitian&#13;
ini berjumlah 13 informan. Analisis data dilaksanakan melalui reduksi data, penyajian data dan juga&#13;
penarikan kesimpulan dan verifikasi. Instrumen penelitian ini adalah penulis sendiri. Hasil/Temuan:&#13;
penelitian ini mengahasilkan beberapa temuan dianalisis menurut dimensi, pada dimensi standar dan&#13;
tujuan kebijakan sudah terdapat standar yang jelas serta tujuan yang juga terarah, pada dimensi sumber&#13;
daya kebijakan masih belum memadai karena banyak infrastruktur dan sarana yang belum optimal, pada&#13;
dimensi Komunikasi dan aktivitas penguatan antar organisasi sudah terdapat komunikasi yang cukup&#13;
baik dalam segi capacity building, pada dimensi karakteristik agen pelaksana masih belum optimal&#13;
dilihat dari segi pengalaman dalam menyelesaikan masalah kemiskinan, pada dimensi Sikap dan&#13;
Kecenderungan Pelaksana sudah menunjukkan sikap yang baik antar pemerintah, pada dimensi&#13;
Lingkungan Sosial, Ekonomi, dan Politikmasih belum kondusif mengingat tingginya tingkat kerawanan&#13;
kondisi di Jayapura. Kesimpulan: Secara umum pelaksanaan kebijakan ini belum sepenuhnya optimal&#13;
karena masih terdapat ketimpangan antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan, serta belum&#13;
meratanya pemahaman pemangku kepentingan terhadap substansi kebijakan Otonomi khusus.&#13;
KataKunci:Otonomi Khusus, Kemiskinan, Orang Asli Papua.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
