<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001192759</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260128104647</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0126001204</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">EFEKTIVITAS PROGRAM AYAH IBU ASUH STUNTING DALAM PENURUNAN STUNTING DI KABUPATEN BANGGAI PROVINSI SULAWESI TENGAH /</subfield>
      <subfield code="c">Dedy Enstein Lawit</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Dedy Enstein Lawit</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">23</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/24952</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Jaftoran, Ferdinandus</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jatinangor :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN),</subfield>
      <subfield code="c">2025</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">363.809 598 445 1</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">363.809 598 445 1  DED e</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Gizi dan Nutrisi</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Rumusan Masalah/Latar Belakang (GAP): Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta menjadi salah satu tantangan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, terjadi peningkatan prevalensi stunting dari 24,3% pada tahun 2022 menjadi 29,1% pada tahun 2023, berlawanan dengan tren nasional. Padahal, Pemerintah Kabupaten telah meluncurkan Program Ayah Ibu Asuh Stunting yang bertujuan menurunkan angka stunting melalui pendampingan keluarga berisiko stunting (KRS). Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan program dan hasil yang diharapkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Program Ayah Ibu Asuh Stunting dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Banggai. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program Ayah Ibu Asuh Stunting cukup efektif, yang ditunjukkan melalui dimensi yang digunakan yaitu peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi anak, penjangkauan yang tepat sasaran terhadap KRS di 45 desa prioritas, dan peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan seperti Posyandu. Data menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Banggai turun drastis dari 29,1% pada tahun 2023 menjadi 10,4% pada tahun 2024. Namun, ditemukan pula tantangan seperti keterbatasan petugas, kendala geografis, serta keakuratan data pelaporan lapangan. Program ini juga menunjukkan kontribusi terhadap perubahan perilaku keluarga, peningkatan pengetahuan ibu, dan peningkatan partisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan. Kesimpulan: Program Ayah Ibu Asuh Stunting memiliki efektivitas yang signifikan dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Banggai, terbukti dari capaian angka 10,4% di tahun 2024 yang melampaui target nasional sebesar 14%. Meskipun demikian, perbaikan pada aspek sumber daya manusia, data lapangan, dan keberlanjutan intervensi perlu dilakukan agar dampak program dapat terus optimal. Kata Kunci: Stunting, Efektivitas Program, Ayah Ibu Asuh</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
