<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001193275</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260205094740</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0226000359</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">PENERTIBAN PENYAKIT MASYARAKAT OLEH SATUAN POLISI PAMONG PRAJA DI KECAMATAN MANDAU KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU :</subfield>
      <subfield code="b">(STUDI KASUS PROSTITUSI) /</subfield>
      <subfield code="c">MUHAMMAD IKHSAN RAHMAN</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">MUHAMMAD IKHSAN RAHMAN</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="250" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">-</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">10 hlm :</subfield>
      <subfield code="b">- ;</subfield>
      <subfield code="c">-</subfield>
      <subfield code="e">-</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/16558</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Syaefullah</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Sumedang :</subfield>
      <subfield code="b">IPDN,</subfield>
      <subfield code="c">2024</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">306.745 981 413 1</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">306.745 981 413 1  MUH p</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">-</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Prostitusi</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Penelitian ini berusaha untuk mengupas&#13;
permasalahan penyakit masyarakat terkhusus pada permasalahan prostitusi yang merajalela&#13;
dari tahun 2020 hingga 2023 dimana terjadinya peningkatan drastis setelah usai masa pandemi&#13;
covid-19. Kecamatan Mandau menjadi salah satu kecamatan tertinggi terkait kasus prostitusi&#13;
dibandingkan dengan kecamatan lainnya sekabupaten Bengkalis. Tujuan : Penelitian ini&#13;
2&#13;
bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk mekanisme penertiban oleh Satpol&#13;
PP dalam pelaksaan penertiban prostitusi, faktor pendukung dan penghambat serta apa saja hal&#13;
yang bisa diupayakan oleh Satpol PP Kecamatan Mandau untuk menurunkan angka kasus&#13;
prostitusi. Metode : Penelitian ini menggunakan konsep penertiban yang dikemukakan oleh&#13;
Eviany, E dan Sutiyo (2023). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif&#13;
kualitatif dengan memberikan gambaran fakta yang terjadi di lapangan dan teknik&#13;
pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengambilan&#13;
data sampel menggunakan Purposive Sampling dan Insidental Sampling. Hasil/Temuan :&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan mekanisme penertiban oleh Satpol PP Kecamatan Mandau&#13;
sudah berjalan dengan baik berdasarkan regulasi yang telah ditetapkan pada Permendagri&#13;
Nomor 26 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum Dan Ketenteraman&#13;
Masyarakat Serta Pelindungan Masyarakat. Namun tindak lanjut dari PPNS dan Dinas Sosial&#13;
tidak ada sehingga berdampak pada tujuan dan harapan menekan angka pelanggaran prostitusi.&#13;
Kesimpulan : Kesimpulan penelitian ini menunjukkan penertiban oleh Satpol PP Kecamatan&#13;
Mandau belum maksimal, sebab tidak adanya pembinaan dan rehabilitasi dari pihak PPNS dan&#13;
Dinas Sosial. Faktor yang menghambat dalam penertiban tersebut adalah pemilik usaha atau&#13;
tempat penginapan dan hiburan malam tidak kooperatif, tidak adanya fasilitas rumah&#13;
rehabilitasi bagi para pelaku, pengaruh budaya luar dan ekonomi yang rendah masih menjadi&#13;
kendala menyadarkan masyarakat terhadap larangan prostitusi.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
