<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001193451</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260206085713</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0226000535</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENURUNAN STUNTING DI KECAMATAN JONGKONG KABUPATEN KAPUAS HULU PROVINSI KALIMANTAN BARAT /</subfield>
      <subfield code="c">Fira Pebrianti</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Fira Pebrianti</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">14 :</subfield>
      <subfield code="b">ilus</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/17131</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Vinda Verina</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Sumedang :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri,</subfield>
      <subfield code="c">2024</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">363.809 598 326 2</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">363.809 598 326 2 FIR c</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Penanganan Masalah Stunting</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Permasalahan/Latar Belakang (GAP):&#13;
Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang masuk 10 provinsi dengan angka stunting&#13;
tertinggi nasional di tahun 2022. Di provinsi Kalimantan Barat salah satu daerah yang mengalami&#13;
peningkatan prevalensi balita stunting tertinggi di tahun 2022 adalah Kabupaten Kapuas Hulu.&#13;
Jongkong menempati posisi pertama dengan presentase jumlah anak yang mengalami stunting tertinggi&#13;
di Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2021, dimana sebesar 39,4% dari total baduta yang diukur&#13;
sebanyak 1.773 ribu jiwa yang mengalami stunting. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis&#13;
Collaborative Governance dalam Penurunan Stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu&#13;
Provinsi Kalimantan Barat, menganalisis faktor determinan (faktor pendukung dang penghambat) pada&#13;
Collaborative Governance dalam Penurunan Stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu&#13;
Provinsi Kalimantan Barat, dan menganalisis upaya yang dilakukan dalam penurunan stunting di&#13;
Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Pada penelitian&#13;
ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan Grand Teory&#13;
Ansell and Gash (2008). Secara umum teknik pengumpulan data dapat dibedakan menjadi beberapa&#13;
kelompok, yaitu teknik observasi langsung, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Berdasarkan&#13;
penelitian terhadap 15 indikator dalam 4 (empat) dimensi oleh Ansell and Gash (2008) dalam&#13;
penelitiannya tentang percepatan penurunan stunting sudah berjalan dengan baik. Hasil/Temuan:&#13;
Collaborative Governance dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu&#13;
Provinsi Kalimantan Barat sudah berjalan dengan baik yang dapat dibuktikan dari penelitian yang&#13;
mengacu pada indikator dan dimensi yang dikemukakan oleh Ansell and Gash (2008) dimana dari 15&#13;
indikator dalam empat dimensi collaborative governance dalam penurunan stunting di Kecamatan&#13;
Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat terdapat 11 indikator yang berhasil dan&#13;
empat indikator yang belum berhasil. Kesimpulan: Keberhasilan 11 indikator dalam teori Ansell and&#13;
Gash (2008) menunjukan kolaborasi sudah berjalan dengan baik di Kecamatan Jongkong terkait&#13;
stunting. Namun, Peneliti menemukan faktor lain yang menyebabkan angka stunting di Jongkong&#13;
mengalami kenaikan yaitu adanya faktor eksternal seperti pola asuh orang tua yang kurang, pemberian&#13;
PMT yang tidak tepat sasaran dan pemberian ASI ekslusif yang kurang.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
