<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001193462</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260206090608</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0226000546</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGATURAN PENGANGKUTAN BATU BARA DI KOTA JAMBI PROVINSI JAMBI /</subfield>
      <subfield code="c">Alvi Rahman Nauli</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Alvi Rahman Nauli</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">112 :</subfield>
      <subfield code="b">ilus</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/19064</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Siti Zulaika</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Sumedang :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri,</subfield>
      <subfield code="c">2024</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">388.320 959 815 41</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">388.320 959 815 41 ALV i</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Layanan Angkutan Truk</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Permasalahan/ Latar Belakang (GAP): Pengangkutan batu bara menimbulkan tantangan&#13;
yang signifikan di Kota Jambi, yang diperparah oleh infrastruktur dan pengawasan peraturan&#13;
yang tidak memadai. Karena pengangkutan batu bara seringkali menggunakan jalan umum&#13;
sebelum rute khusus selesai dibangun, Pemerintah Kota Jambi menghadapi isu-isu kritis dalam&#13;
manajemen dan kepatuhan lalu lintas. Kebijakan dan pembangunan infrastruktur sangat penting&#13;
untuk mengurangi dampak lingkungan dan sosial, sehingga diperlukan strategi yang efektif&#13;
untuk meningkatkan praktik transportasi dan kerangka kerja peraturan di wilayah tersebut.&#13;
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor pendukung&#13;
dan penghambat serta upaya optimalisasi Implementasi Kebijakan Pengaturan Angkutan&#13;
Batubara di Kota Jambi, Provinsi Jambi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif&#13;
deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan&#13;
dokumentasi. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendukung&#13;
Implementasi Kebijakan Pengaturan Angkutan Batubara di Kota Jambi Provinsi Jambi, yaitu&#13;
terbentuknya Tim Terpadu Pengendalian Lalu Lintas Angkutan Jalan (Batubara), adanya&#13;
teknologi informasi SIMSALABIMDISHUB. Faktor penghambatnya antara lain jumlah dan&#13;
kualitas personil yang belum memadai, anggaran yang belum memadai, dan kurangnya&#13;
konsistensi dalam proses implementasi kebijakan baik dari pihak pemerintah maupun&#13;
perusahaan batubara. Saran untuk implementasi kebijakan ini adalah peran Dinas Perhubungan&#13;
Kota Jambi dalam proses pengaturan dan pengawasan harus dilakukan secara rutin dan setiap&#13;
hari hingga jalan khusus batubara selesai dibangun, membuat evaluasi prioritas anggaran,&#13;
perlunya penegakan hukum yang tegas dari pemerintah bagi perusahaan yang melanggar, dan&#13;
komitmen bersama antara pemerintah dan perusahaan. Kesimpulan: studi ini menemukan&#13;
bahwa faktor pendukung seperti Tim Terpadu (Batubara) dan SIMSALABIMDISHUB sudah&#13;
ada, namun tantangan seperti kekurangan personil, keterbatasan anggaran, dan penegakan&#13;
kebijakan yang tidak konsisten menghambat peraturan transportasi batubara di Kota Jambi.&#13;
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, perlu memprioritaskan evaluasi anggaran dan&#13;
meningkatkan kolaborasi antara pemerintah dan industri untuk meningkatkan implementasi&#13;
kebijakan.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
