<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000001195398</controlfield>
    <controlfield tag="005">20260414014729</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0426000543</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">COLLABORATIVE GOVERNANCE PADA PROGRAM SISTEM INFORMASI TERPADU KETENAGAKERJAAN DALAM MENURUNKAN ANGKA PENGANGGURAN TERBUKA DI KOTA MEDAN /</subfield>
      <subfield code="c">Siregar, Jeanclau Vanderick</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Siregar, Jeanclau Vanderick</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">16</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/23818</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Sumedang :</subfield>
      <subfield code="b">Institut Pemerintahan Dalam Negeri,</subfield>
      <subfield code="c">2025</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">331.159 812 11</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">331.159 812 11 SIR c</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Tentang angkatan kerja dan pengangguran</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kota Medan menempati posisi pertama&#13;
sebagai daerah dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di Provinsi&#13;
Sumatera Utara pada tahun 2023, yakni sebesar 8,67%. Hal ini menjadi tantangan&#13;
serius bagi Pemerintah Kota Medan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang&#13;
inklusif. Kesenjangan antara jumlah angkatan kerja dengan ketersediaan lapangan&#13;
kerja, serta kurangnya koordinasi lintas sektor, mendorong pemerintah untuk&#13;
menerapkan pendekatan collaborative governance dalam menurunkan angka&#13;
pengangguran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan&#13;
collaborative governance pada Program Sistem Informasi Terpadu Ketenagakerjaan&#13;
(SIDUTA) di Kota Medan, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat&#13;
yang memengaruhi implementasi program tersebut. Metode: Metode yang digunakan&#13;
adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa&#13;
wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Teori collaborative&#13;
governance dari Ansell dan Gash (2008) digunakan sebagai kerangka analisis, dengan&#13;
menekankan pada empat dimensi: kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan&#13;
fasilitatif, dan proses kolaboratif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
pelaksanaan SIDUTA melibatkan kolaborasi antara Dinas Ketenagakerjaan Kota&#13;
Medan dengan perusahaan penyedia lowongan kerja, lembaga pelatihan, dan&#13;
masyarakat pencari kerja. Program ini berhasil menurunkan angka pengangguran&#13;
secara signifikan pascapandemi. Faktor pendukung utama meliputi dukungan&#13;
pimpinan, kerja sama lintas stakeholder, dan pemanfaatan teknologi digital. Namun,&#13;
beberapa kendala turut dihadapi, seperti keterbatasan anggaran, kurangnya partisipasi&#13;
dunia usaha, dan keterbatasan sumber daya manusia. Pemerintah mengatasi hambatan&#13;
tersebut melalui sosialisasi, penguatan kelembagaan, dan intensifikasi koordinasi&#13;
antar aktor. Kesimpulan: Implementasi collaborative governance dalam Program&#13;
SIDUTA cukup efektif dalam menurunkan tingkat pengangguran terbuka di Kota&#13;
Medan. Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci&#13;
keberhasilan, meskipun masih diperlukan peningkatan dalam aspek pendanaan dan&#13;
keterlibatan sektor swasta.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
