Detail Katalog
ID: 28733Cover Tidak Tersedia
Gambar cover belum diupload
COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENERAPAN KAWASAN TANPA ROKOK DAN KAWASAN TERBATAS ROKOK DI KABUPATEN ACEH TENGAH / M. Khalil Hilmi
Pengarang:
M. Khalil Hilmi ; Baharuddin Thahir
M. Khalil Hilmi ; Baharuddin Thahir
Penerbit:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Tempat Terbit:
Jatinangor :
Jatinangor :
Tahun Terbit:
2025
2025
Subjek
Permasalahan Rokok
Deskripsi Fisik:
18
18
Nomor Panggil:
362.296 598 113 1 M. c
362.296 598 113 1 M. c
Control Number:
INLIS000000001191988
INLIS000000001191988
BIB ID:
0010-0126000433
0010-0126000433
Catatan
Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Rendahnya efektivitas pelaksanaan kebijakan
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Rokok (KTRb) di Kabupaten Aceh
Tengah menjadi permasalahan yang signifikan dalam upaya perlindungan kesehatan
masyarakat. Meskipun Qanun Nomor 10 Tahun 2013 telah ditetapkan sebagai landasan hukum,
implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari lemahnya
koordinasi antar lembaga hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap aturan tersebut.
Permasalahan ini menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan
kebijakan publik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana prinsip
collaborative governance diterapkan dalam implementasi kebijakan KTR dan KTRb di
Kabupaten Aceh Tengah, dengan menyoroti pola interaksi antar aktor, dinamika pelibatan
masyarakat, serta kendala yang memengaruhi efektivitas kolaborasi. Metode: Penelitian ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan dan memahami proses
kolaborasi dalam kebijakan kesehatan publik secara mendalam. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam terhadap 10 informan yang dipilih secara purposif, termasuk pejabat
Dinas Kesehatan, Satpol PP dan WH, tokoh masyarakat, LSM, dan pengelola fasilitas umum.
Selain itu, observasi lapangan di beberapa lokasi KTR dan analisis dokumentasi terhadap
qanun, laporan sidak, serta materi sosialisasi turut dilakukan untuk memperkuat validitas data.
Hasil/Temuan: Penelitian menemukan bahwa proses kolaborasi berjalan belum optimal,
ditandai dengan lemahnya komitmen lintas instansi, rendahnya pemahaman bersama tentang
substansi kebijakan, dan terbatasnya kepercayaan antar aktor. Meski terdapat beberapa hasil
awal positif, seperti peningkatan peringkat Aceh Tengah dalam pemeringkatan nasional dan
intensifikasi kegiatan pengawasan, pelaksanaan KTR belum menghasilkan perubahan perilaku
masyarakat secara signifikan. Kesimpulan: Implementasi kebijakan KTR dan KTRb di Aceh
Tengah membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor melalui komunikasi yang lebih
terbuka, komitmen kelembagaan yang berkelanjutan, serta pelibatan aktif masyarakat sebagai
mitra dalam pengawasan. Upaya perbaikan perlu diarahkan pada pembentukan pemahaman
bersama dan sistem monitoring yang partisipatif agar kebijakan dapat berjalan lebih efektif dan
berkelanjutan.
Kata Kunci: Collaborative Governance, Kawasan Tanpa Rokok, Partisipasi Masyarakat.
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Rokok (KTRb) di Kabupaten Aceh
Tengah menjadi permasalahan yang signifikan dalam upaya perlindungan kesehatan
masyarakat. Meskipun Qanun Nomor 10 Tahun 2013 telah ditetapkan sebagai landasan hukum,
implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari lemahnya
koordinasi antar lembaga hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap aturan tersebut.
Permasalahan ini menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan
kebijakan publik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana prinsip
collaborative governance diterapkan dalam implementasi kebijakan KTR dan KTRb di
Kabupaten Aceh Tengah, dengan menyoroti pola interaksi antar aktor, dinamika pelibatan
masyarakat, serta kendala yang memengaruhi efektivitas kolaborasi. Metode: Penelitian ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan dan memahami proses
kolaborasi dalam kebijakan kesehatan publik secara mendalam. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam terhadap 10 informan yang dipilih secara purposif, termasuk pejabat
Dinas Kesehatan, Satpol PP dan WH, tokoh masyarakat, LSM, dan pengelola fasilitas umum.
Selain itu, observasi lapangan di beberapa lokasi KTR dan analisis dokumentasi terhadap
qanun, laporan sidak, serta materi sosialisasi turut dilakukan untuk memperkuat validitas data.
Hasil/Temuan: Penelitian menemukan bahwa proses kolaborasi berjalan belum optimal,
ditandai dengan lemahnya komitmen lintas instansi, rendahnya pemahaman bersama tentang
substansi kebijakan, dan terbatasnya kepercayaan antar aktor. Meski terdapat beberapa hasil
awal positif, seperti peningkatan peringkat Aceh Tengah dalam pemeringkatan nasional dan
intensifikasi kegiatan pengawasan, pelaksanaan KTR belum menghasilkan perubahan perilaku
masyarakat secara signifikan. Kesimpulan: Implementasi kebijakan KTR dan KTRb di Aceh
Tengah membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor melalui komunikasi yang lebih
terbuka, komitmen kelembagaan yang berkelanjutan, serta pelibatan aktif masyarakat sebagai
mitra dalam pengawasan. Upaya perbaikan perlu diarahkan pada pembentukan pemahaman
bersama dan sistem monitoring yang partisipatif agar kebijakan dapat berjalan lebih efektif dan
berkelanjutan.
Kata Kunci: Collaborative Governance, Kawasan Tanpa Rokok, Partisipasi Masyarakat.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
06653/IPDN/2025 |
|
Baca di tempat | Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor | Tersedia |
Format MARC21 - Total 13 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000001191988 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20260119110031 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-0126000433 | 3 |
| 245 | 1 |
# |
$a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENERAPAN KAWASAN TANPA ROKOK DAN KAWASAN TERBATAS ROKOK DI KABUPATEN ACEH TENGAH /$c M. Khalil Hilmi | 4 |
| 100 | _ |
# |
$a M. Khalil Hilmi | 5 |
| 300 | # |
# |
$a 18 | 6 |
| 856 | # |
# |
$a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24692 | 7 |
| 700 | _ |
# |
$a Baharuddin Thahir | 8 |
| 260 | # |
# |
$a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 | 9 |
| 082 | # |
# |
$a 362.296 598 113 1 | 10 |
| 084 | # |
# |
$a 362.296 598 113 1 M. c | 11 |
| 650 | # |
4 |
$a Permasalahan Rokok | 12 |
| 520 | # |
# |
$a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Rendahnya efektivitas pelaksanaan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Rokok (KTRb) di Kabupaten Aceh Tengah menjadi permasalahan yang signifikan dalam upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Meskipun Qanun Nomor 10 Tahun 2013 telah ditetapkan sebagai landasan hukum, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari lemahnya koordinasi antar lembaga hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap aturan tersebut. Permasalahan ini menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan kebijakan publik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana prinsip collaborative governance diterapkan dalam implementasi kebijakan KTR dan KTRb di Kabupaten Aceh Tengah, dengan menyoroti pola interaksi antar aktor, dinamika pelibatan masyarakat, serta kendala yang memengaruhi efektivitas kolaborasi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan dan memahami proses kolaborasi dalam kebijakan kesehatan publik secara mendalam. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 10 informan yang dipilih secara purposif, termasuk pejabat Dinas Kesehatan, Satpol PP dan WH, tokoh masyarakat, LSM, dan pengelola fasilitas umum. Selain itu, observasi lapangan di beberapa lokasi KTR dan analisis dokumentasi terhadap qanun, laporan sidak, serta materi sosialisasi turut dilakukan untuk memperkuat validitas data. Hasil/Temuan: Penelitian menemukan bahwa proses kolaborasi berjalan belum optimal, ditandai dengan lemahnya komitmen lintas instansi, rendahnya pemahaman bersama tentang substansi kebijakan, dan terbatasnya kepercayaan antar aktor. Meski terdapat beberapa hasil awal positif, seperti peningkatan peringkat Aceh Tengah dalam pemeringkatan nasional dan intensifikasi kegiatan pengawasan, pelaksanaan KTR belum menghasilkan perubahan perilaku masyarakat secara signifikan. Kesimpulan: Implementasi kebijakan KTR dan KTRb di Aceh Tengah membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor melalui komunikasi yang lebih terbuka, komitmen kelembagaan yang berkelanjutan, serta pelibatan aktif masyarakat sebagai mitra dalam pengawasan. Upaya perbaikan perlu diarahkan pada pembentukan pemahaman bersama dan sistem monitoring yang partisipatif agar kebijakan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Collaborative Governance, Kawasan Tanpa Rokok, Partisipasi Masyarakat. | 13 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Ditambahkan: 19 Jan 2026