Detail Katalog

ID: 32316
Cover Tidak Tersedia

Gambar cover belum diupload

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENANGANAN PASCA-STUNTING DI KECAMATAN TANIMBAR SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR PROVINSI MALUKU / Rhendy Baltasar Aryesam

Pengarang:
Rhendy Baltasar Aryesam ; Ginting, Arwanto Harimas
Penerbit:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Tempat Terbit:
Sumedang :
Tahun Terbit:
2025
Subjek
Layanan kesehatan khusus
Deskripsi Fisik:
15 : ilus
Nomor Panggil:
362.175 985 2 RHE p
Control Number:
INLIS000000001195535
BIB ID:
0010-0426000680
Catatan
Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Penanganan pasca-stunting di wilayah kepulauan seperti Kecamatan Tanimbar Selatan masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait regulasi, akses pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Meskipun pemerintah daerah telah berupaya melalui pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting dan penetapan Desa Lokus, implementasi program belum optimal akibat keterbatasan sumber daya, kondisi geografis, dan kesadaran masyarakat yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pemerintah daerah dalam penanganan pasca-stunting dengan menggunakan teori peran Ryaas Rasyid (1997) yang mencakup dimensi regulasi, pelayanan, dan pemberdayaan di Kecamatan Tanimbar Selatan. Metode: Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Informan sebanyak 23 orang terdiri dari pejabat Dinas Kesehatan, petugas Puskesmas, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga dengan anak pasca-stunting. Data dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen pemerintah daerah terlihat dari pembentukan tim dan penetapan desa sasaran, namun akses pelayanan kesehatan masih terbatas karena kondisi geografis dan infrastruktur. Program pemberdayaan telah berjalan namun jangkauan dan partisipasi masyarakat belum optimal. Faktor penghambat utama meliputi belum adanya regulasi khusus, keterbatasan sumber daya manusia, tantangan geografis, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Kesimpulan: Diperlukan penyusunan peraturan daerah khusus penanganan pasca-stunting, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pengembangan sistem pelayanan yang sesuai karakteristik wilayah kepulauan, serta penguatan program pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Temuan ini diharapkan menjadi acuan dalam peningkatan efektivitas penanganan pasca-stunting di wilayah kepulauan.
Status
Tersedia di OPAC Bibliografi Nasional Indonesia Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
Nomor Barcode Nomor Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
07507/IPDN/2025 362.175 985 2 RHE p Baca di tempat Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Format MARC21 - Total 13 field
Tag Ind1 Ind2 Nilai Urutan
001 _ _ INLIS000000001195535 1
005 _ _ 20260417092739 2
035 # # $a 0010-0426000680 3
245 1 # $a PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENANGANAN PASCA-STUNTING DI KECAMATAN TANIMBAR SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR PROVINSI MALUKU /$c Rhendy Baltasar Aryesam 4
100 _ # $a Rhendy Baltasar Aryesam 5
300 # # $a 15 : $b ilus 6
856 # # $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/23878 7
700 _ # $a Ginting, Arwanto Harimas 8
260 # # $a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 9
082 # # $a 362.175 985 2 10
084 # # $a 362.175 985 2 RHE p 11
650 # 4 $a Layanan kesehatan khusus 12
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Penanganan pasca-stunting di wilayah kepulauan seperti Kecamatan Tanimbar Selatan masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait regulasi, akses pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Meskipun pemerintah daerah telah berupaya melalui pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting dan penetapan Desa Lokus, implementasi program belum optimal akibat keterbatasan sumber daya, kondisi geografis, dan kesadaran masyarakat yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pemerintah daerah dalam penanganan pasca-stunting dengan menggunakan teori peran Ryaas Rasyid (1997) yang mencakup dimensi regulasi, pelayanan, dan pemberdayaan di Kecamatan Tanimbar Selatan. Metode: Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Informan sebanyak 23 orang terdiri dari pejabat Dinas Kesehatan, petugas Puskesmas, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga dengan anak pasca-stunting. Data dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen pemerintah daerah terlihat dari pembentukan tim dan penetapan desa sasaran, namun akses pelayanan kesehatan masih terbatas karena kondisi geografis dan infrastruktur. Program pemberdayaan telah berjalan namun jangkauan dan partisipasi masyarakat belum optimal. Faktor penghambat utama meliputi belum adanya regulasi khusus, keterbatasan sumber daya manusia, tantangan geografis, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Kesimpulan: Diperlukan penyusunan peraturan daerah khusus penanganan pasca-stunting, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pengembangan sistem pelayanan yang sesuai karakteristik wilayah kepulauan, serta penguatan program pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Temuan ini diharapkan menjadi acuan dalam peningkatan efektivitas penanganan pasca-stunting di wilayah kepulauan. 13
Penjelasan Field MARC21:
  • 001: Control Number
  • 005: Date and Time of Latest Transaction
  • 020: ISBN
  • 100: Main Entry - Personal Name
  • 245: Title Statement
  • 250: Edition Statement
  • 260: Publication Information
  • 300: Physical Description
  • 650: Subject
  • 700: Added Entry - Personal Name